Selasa, 22 Juli 2008
SENAR YANG PUTUS
Niccolo Paganini, seorang pemain biola terkenal di abad 19 tengah memainkan konser tunggalnya yang dipadati oleh para penggemarnya.
Di tengah suasana konser yang kian menghangat, celaka, tiba-tiba salah satu senar biolannya putus! Keringat dingin mulai membasahi dahi Paganini, tapi dia tetap meneruskan permainan lagunya dengan senar yang tersisa.
Kejadian selanjutnya sangat mengejutkan. Senar biola yang lainnyapun mulai putus satu per satu, hingga hanya tertinggal satu senar…
Ketika para penonton melihat dia tetap memainkan lagunya dengan satu senar, merekapun berdiri, bertepuk tangan, & berujar “hebat... hebat...”.
Namun para penonton menyadari bahwa tidak mungkin Paganini dapat memainkan bagian akhir lagunya hanya dengan satu senar yang tersisa. Dan Paganini pun tahu betul akan hal itu, namun senar-senar yang putus tadi tidak mungkin tersambung kembali.
Akhirnya Peganini menarik napas dalam-dalam, memberi hormat pada penonton dan memberi isyarat kepada dirigen orchestra. Ia telah memutuskan untuk memainkan bagian akhir lagunya hanya dengan satu senar!
Dengan mata berbinar ia berteriak “Paganini dengan satu senar.!!!”
Kemudian ia menaruh biola di dagunya, dan ….ia berhasil memainkan bagian akhir lagu tersebut dengan sangat indah…..
Hidup kita terkadang bagai senar yang putus, dipenuhi oleh persoalan, kekhawatiran, kekecewaan & kegagalan.
Dan kita seringkali mencurahkan banyak waktu untuk memikirkan kembali senar yang putus tadi.
Apakah Anda masih memikirkan "senar-senar" yang putus dalam hidup Anda? .
Apakah senar terakhir nadanya tidak merdu lagi??
Jangan melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya tadi. Mainkanlah senar terakhir itu semerdu mungkin……..
::anonim::
Label:
Learning to Motivation
SEMUT
Siapa tidak kenal Jenghis Khan? Jenghis Khan adalah Kaisar Mongol yang terkenal dan gagah perkasa karena bukan saja berhasil menaklukkan seluruh daratan Tiongkok, tetapi juga merambah ke Eropa dan Asia Tengah.
Sewaktu masih muda, demikian kata sebuah hikayat, Jengkhis Khan yang dikenal sebagai panglima perang dengan nama kecil Temucin, suatu saat, terlibat perang dengan musuhnya. Pertempuran berlangsung dashyat: serang menyerang, serbu menyerbu, siasat lawan siasat, serta taktik lawan taktik. Hingga suatu titik, pasukan Temucin kalah, kocar-kacir, dan tercerai-berai.
Temucin sendiri memilih bersembunyi di dalam sebuah gua. Di sana, dia melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan: segerombolan semut yang sedang berusaha mengangkut sebongkah makanan melewati sebuah dinding batu setinggi kepalan tangannya, yang di mata semut-semut itu adalah tebing yang amat curam. Berulang kali ketika mereka hampir sampai di puncak, makanan itu jatuh, sehingga mereka harus turun kembali ke dasar untuk beramai-ramai mengangkatnya.
Mengamati perjuangan semut-semut yang tidak pernah putus asa itu merupakan keasyikan tersendiri bagi Temucin. Iseng-iseng ia pun mulai menghitung, berapa kali mereka jatuh bangun mengangkat makanan tersebut. Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, sepuluh kali, lima belas kali, dua puluh kali….sampai lebih daripada lima piluh lima, hingga hitungan yang kesekian, semut-semut itupun berhasil.
Temucin mendapatkan inspirasi batin, sebuah pelajaran dari makhluk kecil yang begitu tekun dan tabah menghadapi kegagalan, melecut dan membangkitkan semangatnya. Baru kali ini dia dan pasukannya tercerai berai oleh musuh, tetapi tidak boleh patah hati, lemah hati, dan kalah semangat.
Menjelang petang, dengan mengendap-endap Temucin keluar dari persembunyiannya. Melihat situasi aman, dia pun kembali ke markasnya. Lalu mulai menghimpun pasukannya, mengatur barisan, berlatih, dan menanamkan semangat semut-semut tadi sebagai suntukan motivasi.
Konon, dengan cara begitulah Temucin berhasil membangkitkan moral dan semangat pasukannya sehingga menjelma menjadi pasukan yang gagah berani dan ditakuti oleh musuh-musuhnya.
Semut adalah makhluk kecil dan lemah yang sering tidak kita sadar akan keberadaannya. Namun dibalik semua itu, mereka punya semangat dan daya juang luar biasa. Sikap tidak pernah putus asa dan pantang menyerah menghadapi kegagalan layak dan patut untuk kita teladani.
“Aku harus lebih perkasa daripada semut-semut yang aku lihat di gua.” Itulah lecutan semangat Temucin untuk pasukannya. Dan benar saja, saat mereka bangkit dan berjuang, tidak tawar hati oleh kekalahan, tidak luntur semangat, menghadapi kegagalan dengan kepala tegak, mereka pun bisa berbalik dan menjelma menjadi pasukan yang luar biasa.
Tidak ada keberhasilan yang abadi tanpa kesungguhan
::Anthony Robbins::
Label:
Learning to Motivation
SEMANGAT TERIAKAN PEDAGANG KECIL
Wang Yung Ching, pendiri Formosa Group di Taiwan adalah seorang pengusaha besar yang mencari kebenaran dari kenyataan. Ia selalu bekerja keras, tahan banting dan berpijak pada kenyataan untuk manajemen bisnisnya. Ia mempunyai pendapat pribadi yang unik dan lazimnya, pengalaman pribadi yang biasapun dapat mengandung makna filosofi yang dalam, menarik untuk di pahami. Wang Yung Ching sering memberikan pidato untuk karyawannya. Suatu kali, Ia memberi motivasi kepada karyawannya agar belajar dari semangat teriakan pedagang kecil.
Wang Yung Ching berkata, “Di tengah malam, sering terdengar pedagang-pedagang bakso ikan, bakso daging, bacang, berteriak dari kejauhan kian kemari. Teriakannya terdengar sampai berada di tempat yang dekat kemudian menjauh lagi, namun suaranya masih saja terdengar. Jarang ada yang memanggil akan tetapi pedagang kecil tetap saja berteriak dari jalan yang satu ke jalan yang lain. Mereka tidak mengenal lelah dan tidak mengeluh, sekalipun orang memanggilnya dengan kasar, “Hei, bakso sini!” Coba Anda pikirkan, seandainya ada pembeli yang berbicara dengan nada sekasar itu kepada staff marketing kita, “Hei, segera datang kesini!” Kita pasti mengganggap pembeli itu tidak sopan dan akan merasa tidak senang. Tetapi pedagang bakso itu tidak pernah merasa demikian, ia pasti akan segera menjawab, “Saya segera datang” atau “Ya! Ya!" dengan suara lantang dan senang.
Mengapa pedagang-pedagang kecil yang berteriak menjajakan dagangannya, tanpa kenal hujan dan angin, tidak merasakan kekasaran dan ketidaksopanan para pembelinya? Mengapa mereka tetap dengan suara yang lantang menjajakan dagangan? Karena setelah seharian berteriak menjual dagangannya dengan susah payah, dan akhirnya mendapat pembeli, maka jelas ia merasa gembira. Ini adalah hukum dagang! Bila orang-orang marketing kita mempunyai pengetahuan seperti demikian, usaha penjualan akan sangat menyenangkan! Bila setiap individu bekerja dengan hati seperti itu, maka pekerjaannya akan sangat berhasil!
Bila kita membandingkan kedudukan kita dengan hal kecil ini, kita akan puas dengan keadaan kita saat ini, di samping itu kita akan mendorong diri kita sendiri untuk terus mencari kemajuan.
Alam semesta ini adalah guru kita. Tiga orang berjalan, pasti satu diantaranya ada yang dapat menjadi guru kita! Lihat sekeliling Anda, setiap hari kita berhubungan dengan orang-orang dari berbagai profesi dan usaha. Mereka masing-masing memiliki cerita dan latar belakang kehidupan yang berbeda. Bila kita dapat melihatnya dengan pandangan positif dan keinginan untuk belajar, kita akan mendapatbanyak pelajaran darinya. Seperti dari teriakan para pedagang kecil, kita dapat mengerti semangat mereka yang menyenangi usahanya.
Setiap orang yang saya jumpai,
melebihi saya dalam beberapa hal,
maka saya dapat belajar lebih banyak dalam hal-hal ini.
::Ralph Waldo Emerson (1803- 1882)::
Label:
Learning to Motivation
SAAT TUHAN MENUTUP PINTU
Pernahkah anda mengucap syukur kepada Tuhan untuk "pintu-pintu" yang tertutup dalam kehidupan Anda; sebagaimana Anda mengucap syukur untuk "pintu-pintu" yang terbuka?
Mungkin saat ini Anda sedang bertanya-tanya,
...mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku?
...mengapa usaha dan bisnis yang aku rintis dan kudoakan tidak berhasil bahkan sering gagal?
...mengapa hubunganku dengan kekasihku kandas ditengah jalan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seringkali muncul dalam pikiran kita, di saat impian, harapan dan cita-cita kita tidak tercapai dan bahkan berantakan.
Pernahkah kita berpikir bahwa setiap kali Tuhan menutup sebuah pintu, sebenarnya Tuhan sedang mengarahkan kita kepada pintu yang lain di mana berkat yang lebih baik sedang menunggu kita?
Seringkali kita tidak bisa berpikir jernih dan melihat kebenaran tentang hal tersebut karena jiwa kita merana karena kesedihan dan mata kita buram dengan airmata.
Kita lupa sama sekali tentang kebenaran yang mengatakan bahwa Allah menuntun kita seperti seorang Ayah menuntun anaknya, seperti seorang Gembala yang baik menuntun domba-dombanya yang lemah dan bodoh.
Kita lupa tentang kebenaran yang mengatakan; "......jika kamu yang jahat tahu memberikan apa yang baik untuk anak-anakmu, terlebih lagi Bapamu yang di sorga!......"
Salah satu alasan kenapa Tuhan menutup sebuah pintu atau beberapa pintu dalam kehidupan kita, yaitu karena di balik pintu-pintu itu tidak tersedia sesuatu yang berharga bagi hidup kita, atau juga mungkin ada sesuatu hal yang tidak akan membawa suatu kebaikan bagi kita.
Seringkali Tuhan menutup beberapa pintu dalam kehidupan kita hanya untuk membuat kita lebih dewasa, lebih tangguh, lebih berkualitas dan membuat kita lebih tahan uji! Tuhan memilih melakukan hal itu karena dalam keadaan demikianlah kita lebih mudah untuk menjadi rendah hati untuk belajar mendengarkan nasihatNya; belajar tentang hal-hal yang lebih berarti, lebih bersifat kekal, belajar tentang menghargai orang lain dan belajar untuk tidak lagi bernafsu meninggikan diri sendiri!
Seorang penjual burung harus menyelubungi sangkar burungnya dengan sehelai kain hitam saat menginginkan burung yang ada di dalam sangkar itu untuk mengeluarkan suara kicauanya yang merdu dan indah. Konon dengan menutupi sangkar burung dan menjadikannya gelap akan membuat burung tersebut berkonsentrasi sehingga memunculkan hal-hal yang baik dari dirinya, yaitu kicauannya. Dan ketika sang burung melihat cahaya terang kembali, kicauannya selalu menjadi bunyi yang riang dan menyegarkan.
Seorang pandai besi harus memanaskan berkali-kali batang besi yang berbentuk jelek dan kemudian harus menghajarnya juga berkali-kali diatas landasan tempa untuk kemudian menjelmakan bentuk besi jelek tersebut menjadi sebuah perkakas yang kuat, tahan banting dan berguna untuk banyak orang atau menjadikannya sebagai sebuah benda seni yang sangat indah dan mahal.
Nah, sekarang dapatkah Anda percaya bahwa pintu-pintu yang tertutup dalam hidup anda bukan berarti Tuhan menghukum atau tidak mengasihi anda dan maukah anda mulai belajar mempercayai hidup anda kepadaNya, kepada Dia yang maha tahu, maha bijaksana dan yang sangat mengasihi anda? Baiklah Anda mulai belajar bersyukur kepadaNya untuk pintu-pintu yang tertutup dalam kehidupan kita, karena itu hanya mengarahkan anda kepada pintu anugerah dan berkat yang terbaik yang dibuka oleh Tuhan untuk kehidupan anda!
Label:
Learning to Motivation
Percaya vs. Mempercayakan
Suatu hari diadakan sebuah lomba spektakuler, yakni menyeberangi air terjun Niagara di Amerika Serikat. Para peserta diharuskan menyeberangi air terjun tersebut menggunakan seutas tali baja sambil memegang sebatang tongkat penyeimbang sebagai satu-satunya alat bantu.
Sejak lomba dimulai banyak peserta yang sudah mencoba dan gagal. Hingga akhirnya ada seorang peserta yang dengan pengalaman dan kepiawaiannya mulai menapaki tali baja tersebut dengan mantap.
Perlahan tapi pasti, peserta yang satu ini berhasil mencapai setengah perjalanan. Seluruh penonton ternganga takjub karena tiada seorang peserta pun yang berhasil sampai sejauh itu sebelumnya.
Nampak penuh rasa percaya diri, peserta itu berhasil melampaui 3/4 perjalanan. Sejenak ia terhenti akibat tiupan angin yang mengganggu keseimbangan tubuhnya. Pada saat-saat genting tersebut, penonton seolah-olah tersedot dalam ketegangan.
Akhirnya, dengan segala daya dan upaya serta konsentrasi dan motivasi yang tinggi, peserta ini berhasil menyeberangi air terjun Niagara. Diiringi tepuk tangan bergemuruh, dia menerima medali kehormatan sebagai peserta yang pemberani dan berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Tidak lama kemudian, pria ini didaulat untuk kembali lagi menyeberangi ke tempat asalnya tadi guna membuktikan bahwa keberhasilannya bukan karena faktor keberuntungan belaka. Tantanganpun diterima si lelaki ini dengan memberikan sebuah pertanyaan.
“Oke, saya akan kembali lagi menyeberangi tempat asal, namun sebelumnya ijinkan saya menanyakan satu hal: 'Apakah Saudara-saudara percaya saya bisa melakukan hal ini?'”
Serentak semua penonton mengatakan, “Percaya!”.
Lagi-lagi lelaki tersebut bertanya kepada penonton, “Kalau saudara-saudara percaya saya mampu melakukan hal ini lagi, siapakah di antara Anda yang bersedia bersama-sama dengan saya menyeberangi kembali air terjun ini?”
Semua penonton terdiam dan seolah-olah tidak bergerak sama sekali.
“Ayo, adakah di antara Saudara yang berani?” tantang lelaki itu. “Jangan khawatir, saya akan menggendong saudara dan kita bersama-sama menyelesaikan pekerjaan ini!” jelasnya lagi.
Kembali penonton tidak ada yang menjawab. Dalam keheningan, tiba-tiba seorang anak kecil menyeruak kerumunan massa dan menyatakan kesediaannya. Lelaki tersebut memanggul anak kecil itu di atas pundaknya dan langsung memulai perjalanan kembali menyeberangi air terjun Niagara.
Perjalanan kali ini tampaknya memakan waktu lebih lama dari perjalanan pertama tadi. Melewati setengah perjalanan penonton bersorak dengan keyakinan si peserta akan tiba di seberang dengan selamat.
“Sungguh pertunjukan yang luar biasa!” ujar seorang reporter televisi yang meliput kejadian ini. Akhirnya tibalah si lelaki dan anak kecil yang digendongnya dengan selamat di seberang.
Gemuruh sorak-sorak penonton kembali berkumandang. Sekarang konsentrasi penonton bukan lagi kepada si lelaki melainkan kepada si anak kecil, dia pun diajak naik ke atas panggung dan diwawancarai oleh panitia lomba.
“Nak, mengapa engkau mau mengajukan diri untuk naik bersama-sama dengan laki-laki itu menyeberangi air terjun yang berbahaya ini?” tanya panitia lomba.
“Karena dia adalah bapak saya!" jawab anak itu singkat.
Terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara "percaya" dengan "mempercayakan". Sikap penonton dalam cerita di atas adalah lambang dari rasa “percaya”, sedangkan keikutsertaan sang anak dalam pundak laki-laki tersebut adalah "mempercayakan".
Terkadang manusia berada pada tingkatan percaya kepada Sang Pencipta, namun tidak bersedia secara total mempercayakan hidupnya dalam iman kepada-Nya.
Seorang karyawan percaya bahwa perusahaannya mampu menghidupi keluarganya, namun tidak bersedia mempercayakan sepenuhnya akan kemampuan perusahaan tersebut sehingga pekerjaannya sehari-hari tidak fokus.
Seorang istri percaya bahwa suaminya tidak selingkuh dengan wanita lain, namun tidak mempercayakan secara total keyakinannya tersebut, akibatnya rasa cemburu buta dan curiga masih saja mewarnai hubungan mereka. Seorang pimpinan percaya bahwa staf atau karyawannya mampu menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan pada mereka, namun tidak mempercayakan sepenuhnya. Alhasil, setiap waktu selalu melakukan pengawasan super-ketat sehingga kreativitas karyawan terkebiri.
Jadi, jika hidup hanya sekadar percaya berarti menunjukkan penyerahan diri yang tidak lengkap terhadap apa yang kita percaya. Hidup sekadar percaya tidak menuntut komitmen penuh. Sebagai contoh, seorang pemimpin percaya bahwa armada penjualannya mampu mencapai target bulanan sesuai dengan rapat perencanaan. Namun, tidak ada komitmen untuk memberikan bimbingan dan arahan pencapaian tersebut.
"Percaya" merupakan
langkah awal sebelum "mempercayakan".
::Ary Ginanjar:
Label:
Learning to Motivation
Langganan:
Postingan (Atom)